<![CDATA[DOKTER HEWAN - Artikel Kedokteran Hewan]]>Mon, 08 Feb 2016 06:04:30 -0800Weebly<![CDATA[Kebotakan pada anjing yang sulit disembuhkan]]>Wed, 16 May 2012 03:14:01 GMThttp://dokterhewan.weebly.com/artikel-kedokteran-hewan/kebotakan-pada-anjing-yang-sulit-disembuhkanPicture
Rilwan Chondro, drh

Surabaya/Dokter Hewan

Pada dasarnya ada berbagai macam penyebab rontoknya bulu pada anjing. Ada jenis kasus dimana anjing mengalami kerontokan bulu karena disebabkan alergi, kutu, atau parasit lain seperti  bakteri dan jamur yang menyebabkan peradangan  berupa kulit tampak merah, berketombe dan luka hingga bernanah.

Meski terlihat parah, pada kasus seperti ini bulu anjing akan segera tumbuh kembali segera setelah alergi dan parasit penyebab kerusakan kulit dapat dimusnahkan. Namun ada jenis kasus lain dimana anjing mengalami kerontokan bulu hingga kebotakan yang sifatnya lebih rumit dan hampir tidak mungkin disembuhkan, meski diberikan berbagai macam pengobatan.

Para dokter hewan di dunia saat ini menyebut penyakit ini dengan kebotakan tipe X (atau alopecia X). Ada beberapa macam penyebab dari kebotakan tipe X ini antara lain tumor di testis, namun pada banyak contoh kasus yang pernah ditangani oleh saya, penyakit kebotakan ini bisa muncul begitu saja tanpa penyebab yang jelas dan biasanya mulai terlihat saat anjing berusia rata-rata 2 atau 3 tahun.

Biasanya pasien dengan kasus seperti ini yang saya tangani sudah mencoba berbagai macam dokter hewan dan memang penyakit ini asal bukan disebabkan oleh tumor di testis hampir tidak mungkin disembuhkan; meski pada beberapa kasus bulu pasien tiba-tiba tumbuh sendiri setelah setahun atau dua tahun, namun sedihnya tidak lama kemudian akan mengalami kerontokan kembali.

Pada pasien yang mengalami kebotakan tipe X ini biasanya bulu yang rontok bersifat simetris dan kulit akan tampak hitam. Trah anjing yang paling sering mengalami kasus seperti ini adalah mereka berbulu panjang seperti chow-chow dan pom.

Kebanyakan anjing yang mengalami kebotakan tipe X ini pada saat diperiksa darah akan menunjukkan ketidakseimbangan hormon, namun meski diterapi dengan hormon, tidak menunjukkan perbaikan yang menonjol dan bahkan menunjukkan kegagalan.

Beberapa dokter hewan akan mengajurkan untuk penyuntikan vitamin E atau pemberian secara oral vitamin E secara berkala pada kasus ini, namun cara ini kurang efektif dan cenderung tidak berhasil, malah akan menimbulkan efek samping akibat konsumsi vitamin E secara berlebihan dalam jangka panjang, antara lain susah buang air besar dan nafsu makan menurun.

Oleh karena itu, apabila diagnosa dokter hewan menunjukkan dengan pasti bahwa anjing anda mengalami kebotakan tipe X atau anda sudah frustasi membawa anjing anda ke dokter hewan mana pun tidak kunjung tumbuh kembali bulu di hewan kesayangan anda tersebut; maka lebih baik biarkan saja anjing anda botak karena pada kebotakan tipe, anjing anda tidak akan mengalami gangguan kesehatan lain selain kebotakan tersebut. Dia akan tetap ceria dan mampu menjadi sahabat setia bagi pemiliknya.


]]>
<![CDATA[Peningkatan frekuensi buang angin di anjing dan kucing]]>Sat, 24 Mar 2012 12:34:59 GMThttp://dokterhewan.weebly.com/artikel-kedokteran-hewan/peningkatan-frekuensi-buang-angin-di-anjing-dan-kucing Rilwan Chondro, drh

Seorang pria sedang duduk di ruang keluarga bersama istri dan anaknya, ketika tiba-tiba tercium bau yang sangat menyengat. Kontan terjadi keributan kecil yang disertai canda gurau dan saling menyalahkan diantara anggota keluarga tersebut, sedangkan anjing peliharaan keluarga tersebut duduk menyaksikan mereka sambil berpikir semoga dia bisa menahan dirinya tidak buang angin selanjutnya.

Anjing dan kucing seperti halnya manusia dapat buang angin apabila terbentuk gas di saluran pencernaannya. Hal ini normal, namun apabila hewan peliharaan itu buang angin dengan frekuensi yang tinggi dimana pemilik sering memergoki mereka buang angin, maka hal tersebut menjadi tidak normal.

Salah satu penyebab meningkatnya frekuensi buang angin adalah radang saluran pencernaan akibat infeksi bakteri, virus, parasit (cacing) dan tumor.

Penyebab lainnya adalah:

1.       makan dengan takaran yang terlalu berlebihan atau disebut dengan istilah gluttony.

2.       penyakit pernafasan

3.       makanan yang terlalu tinggi serat (anjing dan kucing adalah hewan pemakan daging yang tidak terlalu membutuhkan serat), produk-produk susu (mengandung laktosa yang sulit dicerna anjing dan kucing), perubahan makanan yang mendadak

4.       kekurangan enzim percernaan tertentu

5.       bersaing dengan hewan lain ketika makan sehingga makan terlalu cepat dan rakus

Pada kasus yang serius, gejala yang menunjukkan rongga perut penuh gas ini bisa disertai kejadian muntah, diare dan penurunan berat badan.

]]>
<![CDATA[Kelainan jantung di anjing]]>Wed, 21 Mar 2012 03:17:40 GMThttp://dokterhewan.weebly.com/artikel-kedokteran-hewan/kelainan-jantung-di-anjing Rilwan Chondro, drh/Surabaya

Apakah anda pernah menemui anjing kesayangan anda malas apabila diajak jalan atau lari dan begitu latihan dilakukan entah itu berjalan atau lari sedikit saja langsung saja kecapean hingga terputus-putus nafasnya?

Berhati-hatilah sebab hal tersebut adalah salah satu gejala kelainan jantung yang dapat mengarah pada gagal jantung yang sifatnya fatal, yaitu kematian mendadak, apabila dibiarkan berjalan kronis.

Kelainan jantung memiliki bermacam-macam bentuk dan kelainan ini didapat dari faktor keturunan maupun faktor lainnya, seperti usia tua, kegemukan (obesitas) dan infeksi.

Salah satu bentuk kelainan yang paling sering ditemui adalah sebuah keadaan dimana jantung mengalami pembesaran. Kelainan umumnya banyak ditemui di anjing trah besar meski di anjing trah kecil seperti pom, banyak juga ditemukan.

Selain gejala di atas, berikut gejala lain yang bisa ditemukan oleh pemilik hewan pada anjing yang mengalami pembesaran jantung:

1.       Nafsu makan menurun. Anjing dengan pembesaran jantung akan mengalami keadaan dimana air membanjiri rongga dada dan saluran pencernaan yang dipenuhi gas. Keadaan ini akan memicu penurunan nafsu makan.

2.       Batuk. Dengan membesarnya jantung, suplai oksigen ke tubuh akan mengalami kendala sehingga trachea (saluran nafas atas) dapat mengalami kolaps.

3.       Lesu alias tidak bersemangat seperti biasanya.

Apabila menemukan gejala-gejala di atas segera bawa anjing kesayangan anda, meski sifatnya fatal, pembesaran jantung dapat disembuhkan dengan pengobatan yang teratur.

]]>
<![CDATA[Rabies, virus pembunuh makhluk berdarah panas.]]>Fri, 17 Feb 2012 03:11:13 GMThttp://dokterhewan.weebly.com/artikel-kedokteran-hewan/rabies-virus-pembunuh-makhluk-berdarah-panasit Rilwan Chondro, drh

Surabaya

Rabies, sebuah kata menakutkan yang sangat sering kita dengar. Tidak sedikit film-film Hollywood yang terinspirasi penyakit ini. Karena selalu identik dengan anjing maka penyakit ini sering digunakan untuk melakukan pembunuhan masal terhadap hewan yang memiliki nenek moyang berasal dari serigala.

Banyak hal mengenai penyakit ini yang tidak diketahui oleh kalangan awam dan mengakibatkan ketakutan yang mengarah pada tindakan yang tidak rasional. Artikel yang dibuat dengan format poin-poin fakta yang diharapkan dapat memberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai penyakit yang mematikan ini.

Berikut adalah fakta-fakta penting mengenai rabies:

1.       Rabies disebabkan oleh virus (family Rhabdoviridae, genus Lyssavirus) berbentuk seperti peluru yang DAPAT menyerang semua jenis makhluk hidup yang berdarah panas. Contoh makhluk hidup berdarah panas ini adalah anjing, kucing, kelelawar, manusia, sapi, kerbau, babi dan burung. Hanya reptil dan amfibi yang merupakan hewan berdarah dingin yang tidak beresiko terkena rabies.

2.       Karena virus ini mampu menginfeksi hewan berdarah panas maka TIDAK HANYA anjing yang dapat menularkan rabies.

3.       Virus ini terutama ditularkan melalui gigitan karena partikel virus ini terakumulasi terutama di kelenjar air ludah selain di otak dan sistem saraf. Oleh karena itu maka yang DAPAT menularkan penyakit ini adalah SEMUA makhluk berdarah panas yang mampu menggigit, TIDAK HANYA anjing. Penularan juga dapat terjadi apabila tetesan air ludah dari hewan terinfeksi mengenai luka terbuka di tubuh makhluk lain.

4.       Karena penularan rabies pada umumnya lewat gigitan maka seekor hewan dan manusia yang diduga terinfeksi semestinya juga memiliki riwayat digigit hewan lain, apabila tidak memiliki riwayat digigit maka perlu diragukan dan diperlukan pengamatan lebih lanjut terhadap diagnosa tersebut, karena ada beberapa penyakit lain yang memiliki gejala hampir sama dengan rabies, seperti virus flu yang sudah mencapai otak dan prion penyebab penyakit sapi gila.

5.       Masa inkubasi atau gejala penyakit rabies pada umumnya akan muncul dalam kisaran bervariasi antara 10 hari dan 6 bulan setelah virus masuk ke dalam tubuh (pada umumnya lewat gigitan).

6.       Gejala yang muncul terbagi atas 3 fase yakni: fase prodormal, fase furious dan fase paralytic.

7.       Pada fase prodormal, hewan atau manusia yang terinfeksi akan mulai mengalami perubahan tingkah laku menjadi tidak dapat menelan, lebih ingin menyendiri, gelisah, dan sikap malu yang berlebihan. Pada fase ini, seluruh saraf di tubuh penderita akan menjadi lebih sensitif dari biasanya, sehingga sentuhan lembut akan terasa seperti hantaman keras dan sedikit cahaya masuk mata akan terasa seperti cahaya matahari yang sangat terang. Tidak dapat dibayangkan penderitaan pasien pada fase ini.

8.       Pada fase furious, hewan dan manusia akan menunjukkan gejala keagresifan, dimana tiba-tiba akan menggigit dan menyerang tanpa alasan yang jelas.

9.       Pada fase paralytic, hewan akan mengalami kelumpuhan yang mengarah pada kematian.

10.   Hewan berumur muda yang terkena infeksi rabies, biasanya tidak akan mengalami ketiga fase tersebut namun segera menjurus kepada fase paralytic. Oleh karena itu hewan muda hampir sangat tidak mungkin menularkan rabies.

11.   Tidak ada pengobatan terhadap penyakit ini sehingga hewan dan manusia yang terinfeksi DAN sudah menunjukkan gejala pada fase prodormal biasanya tidak tertolong lagi.

12.   Penyebaran rabies hampir rata di seluruh belahan dunia kecuali di Inggris, Australia, New Zealand, Hawaii, Jepang, dan sebagian negara-negara skandinavia, seperti norwegia, islandia dan sebagainya.

13.   Di Indonesia sampai dengan saat ini, terdapat beberapa daerah yang bebas dan daerah yang endemis rabies. Surabaya saat ini masih termasuk daerah yang  BEBAS dari rabies.

14.   Pencegahan paling efektif untuk rabies adalah dengan PENGAWASAN TRANSPORTASI HEWAN dari daerah tidak bebas ke daerah bebas dan VAKSINASI hewan peliharaan di kedua macam daerah.

15.   Vaksinasi hanya boleh dilakukan setelah anjing atau kucing berumur 12 minggu dan diulang 12 bulan kemudian.

16.   Pembunuhan masal terhadap populasi anjing hanya akan memberikan solusi sementara yang menunjukkan kegagalan pemerintah daerah dalam mengawasi transportasi hewan dan justru akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem.

Tips untuk mengatasi luka gigitan atau cakaran anjing, kucing atau hewan lain apabila anda tidak dapat segera mendapatkan bantuan medis:

1.       Jangan panik, karena kepanikan akan meningkatkan detak jantung anda sehingga apabila gigitan tersebut membawa partikel virus maka akan semakin cepat tersebar ke seluruh tubuh. Segera fiksasi daerah di atas luka gigitan, semisal gigitan ada di lengan, maka segera ikat erat daerah atas dekat luka gigitan tersebut sehingga darah sedapat mungkin tidak mengalir ke jantung.

2.       Segera taburi luka anda dengan detergent atau sabun cuci lain yang dapat melarutkan lemak kemudian cuci dengan air mengalir. Virus rabies memiliki pelindung dari lemak sehingga dapat hancur dengan pelarut lemak.

3.       Segera cari bantuan medis terdekat. Tenaga medis biasanya akan segera menawarkan suntikan anti-rabies.

]]>
<![CDATA[Prosedur sebelum, setelah mengimunisasikan (memvaksinkan) anjing dan kucing]]>Mon, 13 Feb 2012 06:56:16 GMThttp://dokterhewan.weebly.com/artikel-kedokteran-hewan/prosedur-sebelum-setelah-mengimunisasikan-memvaksinkan-anjing-dan-kucing Rilwan Chondro. drh

Surabaya

Banyak pemilik baru maupun pemilik lama anjing dan kucing yang semakin sadar bahwa untuk menjamin kesehatan anjing dan kucing mereka, mecegah penyakit menular dan menghemat biaya perawatan apabila mereka sampai sakit, hewan-hewan tersebut perlu diiminunisasi.

Namun banyak dari para pemilik ini yang tidak tahu bahwa sebelum hewan peliharaan mereka divaksin atau diimunisasi ada beberapa prosedur yang perlu dilakukan sebelum hewan-hewan tersebut diimunisasi untuk pertama kalinya.

Berikut beberapa pengetahuan dan persiapan sebelum mengimunisasikan anjing atau kucing anda:

1.       Anjing dan kucing harusnya sudah divaksin pertama kali saat berumur 8 minggu. Karena pada umur tersebut hewan-hewan ini sudah tidak lagi terlindungi oleh antibodi yang didapat dari induknya sehingga sangat rentan terkena penyakit terutama apabila terjadi wabah.

2.       Vaksin akan diulang 4 minggu kemudian. Setelah itu vaksinasi cukup diulang lagi tiap satu tahun sekali.  Perlu diingat bahwa vaksin rabies dianjurkan HANYA BOLEH diberikan apabila anjing dan kucing sudah berumur minimal 12 minggu.

3.       Apabila anda mendapatkan anjing tersebut sudah berumur lebih dari 3 bulan, maka cukup divaksin sekali saja pada umur tersebut dan dilanjutkan dengan pengulangan setahun sekali tersebut.

4.       Apabila anda baru saja membeli anjing dan kucing tersebut segera beri obat cacing dengan dosis yang sesuai, tidak peduli anda membelinya di petshop, breeder, cattery atau pasar hewan.

5.       Sebelum membawa anjing dan kucing untuk diimunisasikan ke dokter hewan maka biarkan hewan tersebut tinggal di tempat barunya selama kurang lebih 1 minggu agar hewan bisa beradaptasi terlebih dahulu.

6.       Pastikan hewan anda sehat sebelum divaksin. Jangan memaksa dokter hewan untuk mengimunisasi anjing dan kucing anda apabila dokter tersebut menemukan kelainan atau penyakit pada anjing dan kucing anda. Hewan harus benar-benar SEHAT saat divaksin.

7.       HARUS diingat! Anjing dan kucing anda tidak boleh dimandikan, kena air hujan dan dibawa pergi jauh dalam kurun waktu 10 hari setelah divaksin karena dalam kurun waktu tersebut tubuh anjing dan kucing mengalami pembentukan antibodi sehingga rentan terhadap stress dan faktor-faktor luar yang dapat menurunkan kondisi tubuh.

]]>